二战后在印度尼西亚的日本士兵的命运如何?
二战后在印度尼西亚的日本士兵的命运如何?
这是二战后留在印尼的日本士兵的故事之一。他叫中村辉夫,是一名日本士兵,原籍是台湾岛。1895-1945 年间,台湾曾长期沦为日本的殖民地。中村辉男 22 岁时成为一名日本志愿兵。当时是 1942 年,台湾仍是日本帝国的殖民地。他被派往南方的摩罗台群岛作战。在听到大日本帝国败给以美国为首的盟军后,他没有返回日本,而是躲藏在摩罗台群岛皮罗沃村的森林里,直到 1974 年才再次被发现。他不知道战争已经结束,在摩罗台岛的森林和洞穴中躲藏了 30 年 [1]。
Teruo Nakamura。Facebook/all about WW-2[2].
1919 年 10 月 8 日,中村出生于中华民国台湾(福尔摩沙)。他出生时的名字是阿屯-帕拉林,而许多台湾媒体则称他为李光辉。中村出身于台湾原住民阿美族,以狩猎为生。
1943 年 11 月,日本占领台湾,中村应征加入日本皇军高砂义勇队。他被派驻荷属东印度群岛的摩罗台岛。正是因为加入了日本军团,他才有了中村辉夫这个名字。
Yoshikuni Igarashi 在《Homecomings: The Belated Return of Japan's Lost Soldiers (2016)》一书中记载,中村曾服役的部队由 4 个连组成。在加入他的 485 名成员中,有 373 人是台湾人。当时日军的任务是保卫摩罗台岛,抵御盟军的进攻,不过最终还是遭到了麦克阿瑟将军率领的部队的进攻,此后盟军在摩罗台岛建立了军事基地。
这是由 Yoshikuni Igarashi 撰写的一本书。
摩罗台战役发生在第二次世界大战末期的 1944 年 9 月 15 日。美军和澳大利亚军队在摩罗台岛西南部登陆,战役由此开始。解放菲律宾需要摩罗台岛基地。入侵的美国和澳大利亚士兵人数远远超过日军。日军增援部队于 10 月和 11 月登陆,但缺乏攻击盟军的补给。战斗一直持续到战争结束,日本士兵因疾病和饥饿伤亡惨重。1945年,包括中村铁郎在内的日军也被宣布阵亡。
.
这是莫罗泰战役的摄影片段。
红色的岛屿是北马鲁古的摩罗台岛的地理位置。
正是这次战败导致中村到摩罗台岛加洛卡山山坡的荒野中等待其他日军来接他。这次躲藏并非毫无缘由,因为他牢记着指挥官川岛少佐的话。"川岛说:"不要动,因为日军迟早会来接他,哪怕是一百年后。那里的一些日本士兵仍在坚持,拒绝投降。1974 年 12 月 18 日才获释的中村铁郎就是其中之一。
他是如何独自在丛林中生存 30 年的呢?
在摩罗台岛的荒野之中,在加洛卡山山坡的竹林和寒冷的空气中,中村建造了一个 2×1.5 米的小木屋,木墙藤顶。在小屋里,中村数十年如一日地等待着他所谓的 "胜利之日"。第二次世界大战于 1945 年结束,当时他并不知道战争局势,一直躲在森林里,直到 1974 年 12 月 18 日被印尼国民军成员发现,才最终回到了日本"[5]。
这是中村铁郎在森林中被发现时的照片。
发现中村铁郎的最初过程是怎样的?
1974 年年中,北马鲁古省莫罗台岛皮洛沃村一位名叫路德-戈格(Luther Goge)的居民来到莫罗台岛警察分区指挥部(Makosek)。区指挥官、警察上尉拉瓦拉塔(Lawalata)接到报告,称有一名年迈的日本士兵躲藏在加洛卡山脚下的热带雨林中。
路德说,他的父亲拜科利与中村是几十年的朋友。他父亲是在狩猎野猪时认识中村的。拜科利经常去中村的藏身处拜访他,给他带去所需的食品,如糖、盐或茶。白科里的活动最初并不为家人所知。父亲去世后,路德接到遗嘱,让他继续与中村保持友谊,并为他提供所需的生活必需品。
随后,路德经父亲介绍认识了中村。父亲去世后,路德继续与中村保持友谊。但路德开始担心中村的安危。路德没有子女,无法继续与中村交往。最后,他向摩罗台岛 Kosek 报告了他的友谊。起初,作为 Dansek 的警察队长 Lawalata 并不相信路德的报告。于是,他将报告转给了印尼空军莫罗泰北部基地(Lanud)司令。发现报告随后被转交雅加达印尼空军总部,总部立即与日本驻雅加达大使馆取得联系。
1974 年 11 月初,日本驻雅加达大使馆请求印尼政府协助组织一次搜索任务,随后由印尼空军执行。由 KODAU XII/Morotai 的 Supardi AS 上尉率领的 20 人搜索队于 1974 年 12 月 18 日上午出发。但是,这次出发对民众保密。搜索队从早上走到傍晚,从莫罗台岛中心一直走到中村藏身的皮洛沃村林区。
晚上休息时,一名精通日语的队员汉兹-安东尼军士长开始设计抓捕中村的方案。他教全体队员唱日本国歌《君之代》。除国歌外,队员们还带来了苏哈托总统、日本首相田中角荣的照片、红白相间的国旗和日本日之丸旗。 当时的情景是,当中村出现时,接应队员高唱日本国歌,升起日本国旗和红白相间的国旗,并展示苏哈托总统和日本首相田中角荣的照片。
活动当天上午,接机小组开始寻找中村。一段时间后,接应小组找到了中村的藏身小屋。当他们找到时,中村却不在那里。接机小组于是躲了起来。当 Nakamura 回来时,队员们包围了小屋。 Nakamura 大吃一惊,脸上露出非常紧张的表情,试图进入小屋。
按照情景,队员们唱起了木叶之歌,挥舞着照片和旗帜。中村听到后,立即站直身体,做好了准备。这时,中士汉兹-安东尼伏击了中村。蒂姆随即用枪指着中村,让他把手举起来。汉兹-安东尼中士随后用日语与中村交谈。汉兹告诉他,战争已在 29 年前结束。中村所保卫的国家日本也在战争中被盟军打败。
Hanz 还告诉他,摩罗台岛现在是一个独立的地区,加入了名为印度尼西亚的国家。Hanz 还展示了当时印尼国家元首苏哈托总统的照片。此外,Hanz 还展示了日本首相田中角荣作为日本政府首脑的照片。
中村被捕后,印尼国民军给了他一套制服。中村没有被捆绑,也没有戴手铐,而是被小组用快艇从海上带到了印尼军-非盟基地。到达港口时,居民们已经挤满了人。中村的发现让摩罗台岛兴奋不已。在莫罗泰空军基地,对中村的健康状况进行了检查,结果令人吃惊:尽管他在森林中躲藏了 30 年,但身体状况非常好。
通过 Serma Hanz 的翻译,中村承认他留在森林里是为了躲避盟军的追捕,盟军在 1945 年初进攻了摩罗台。他仍然认为该岛是由盟军控制的,因为他经常看到空军飞机飞越摩罗台,他以为那是美国飞机。随后,他在当时的韩国空军司令萨利赫-巴萨拉(Saleh Basarah)元帅的陪同下飞往雅加达,并被安置在雅加达 PELNI 医院休息。1974 年 12 月 27 日,日本宣布了发现他的消息[6]。
二战后日本士兵在印尼的故事由此展开。希望它能增加人们的知识。
Ini adalah salah satu kisah tentara Jepang yang tertinggal di Indonesia pasca Perang Dunia II . Namanya Teruo Nakamura , ia merupakan prajurit Jepang yang aslinya berasal dari Pulau Taiwan . Taiwan cukup lama dijajah oleh Jepang , yaitu sejak tahun 1895 - 1945 . Teruo Nakamura menjadi tentara sukarelawan Jepang ketika berusia 22 tahun. Saat itu, tahun 1942 dan Taiwan masih menjadi daerah koloni kekaisaran Jepang. Ia mendapat tugas perang ke selatan tepatnya di Kepulauan Morotai. Setelah mendengan kekalahan Kekaisaran Jepang kepada Sekutu yang dipimpin Amerika Serikat , ia tidak ikut pulang ke Jepang tetapi bersembunyi di hutan Desa Pilowo, Kepulauan Morotai hingga ditemukan kembali pada 1974. Ia tak tahu perang telah selesai, dan selama 30 tahun bersembunyi di hutan dan goa-goa di Morotai
.Teruo Nakamura. facebook/all about WW-2 .
Nakamura lahir di Taiwan ( Formosa ) , Republik Tiongkok pada 8 Oktober 1919. Ia terlahir dengan nama Attun Palalin, sementara media Taiwan banyak menyebutnya dengan Lee Guang-Hui. Nakamura berasal dari Suku Ami, pribumi Taiwan yang terbiasa hidup dengan berburu.
Pada November 1943, ketika Jepang sedang menduduki Taiwan, Nakamura terkena wajib militer yang membuatnya masuk dalam sebuah unit sukarela Takasago dari Angkatan Darat Kekaisaran Jepang. Ketika itu ia ditempatkan di Pulau Morotai, Hindia Belanda. Dengan bergabung korps militer Jepang pula ia mendapatkan nama Teruo Nakamura.
Menurut Yoshikuni Igarashi dalam " Homecomings: The Belated Return of Japan's Lost Soldiers (2016) " kesatuan tempat bertugasnya Nakamura terdiri dari 4 kompi. Dari 485 anggota yang tergabung di dalmnya, 373 di antaranya adalah orang Taiwan. Tugas militer Jepang kala itu adalah mempertahankan Pulau Morotai dari gempuran tentara sekutu, walaupun akhirnya kejadian itu benar terjadi dengan serangan pasukan yang dipimpin Jenderal Mc Athur dan setelah itu tentara sekutu membangun pangkalan militernya di pulau Morotai.
.
Ini rekaman foto dari pertempuran Morotai .
Pulau warna merah adalah letak geografis Pulau Morotai di Maluku Utara.
Kekalahan itulah yang menjadi penyebab Nakamura pergi ke dalam hutan belantara lereng Gunung Galoka, Pulau Morotai untuk menantikan pasukan Jepang lainnya yang menjemputnya. Persembunyian ini tidak ia lakukan tanpa alasan, sebab ia teringat akan kata-kata komandannya, Mayor Kawashima. “Tetaplah bertahan, karena cepat atau lambat angkatan darat Jepang akan datang menjemputnya , sekalipun seratus tahun mendatang,” ujar Kawashima. Beberapa prajurit Jepang di sana masih terus bertahan dan menolak menyerah. Salah satunya adalah Teuro Nakamura yang baru berhasil diamankan pada 18 Desember 1974.
Bagaimana ia bisa bertahan selama 30 tahun di dalam hutan sendirian ?
Di tengah hutan belantara Pulau Morotai , di tengah pokok-pokok pohon bambu dan dinginnya udara di lereng gunung Galoka , Nakamura membuat sebuah pondok ( gubug ) kecil yang berukuran 2 x 1,5 meter yang berdinding kayu dan beratap rotan. Di dalam gubuk tersebut Nakamura menantikan hari yang disebutnya sebagai “hari kemenangan” selama puluhan tahun. Perang Dunia II selesai tahun 1945 ia pun tidak tahu situasi perang saat itu dan terus bersembunyi di dalam hutan hingga suatu ketika ditemukan anggota TNI pada tanggal 18 Desember 1974, dan akhirnya dikembalikan ke Jepang.
Ini penampakan foto Teuro Nakamura saat ditemukan di hutan .
Bagaimana proses awal ditemukannya Teuro Nakamura ?
Pada pertengahan tahun 1974 , ada seorang warga Desa Pilowo, Pulau Morotai - Kabupaten Maluku Utara bernama Luther Goge datang ke Markas Komando Sektor Kepolisian (Makosek) Pulau Morotai. Komandan Sektor (Dansek), Kapten Polisi Lawalata, yang menerima laporan tentang adanya seorang prajurit Jepang tua yang hidup bersembunyi di hutan hujan tropis di kaki Pegunungan Galoka.
Luther mengatakan, bahwa ayahnya yang bernama Baicoli, bersahabat dengan Nakamura selama puluhan tahun. Ayahnya bertemu Nakamura saat sedang berburu babi hutan. Baicoli kerap mengunjungi Nakamura di tempat persembunyiannya untuk membawakan bahan-bahan makanan yang dibutuhkan seperti gula, garam, atau teh. Kegiatan Baicoli itu pada awalnya sama sekali tak diketahui oleh keluarganya. Hingga akhirnya, menjelang ayahnya meninggal, Luther diberi wasiat untuk melanjutkan persahabatan dengan Nakamura dan menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diinginkannya.
Luther kemudian dikenalkan oleh ayahnya kepada Nakamura. Setelah ayahnya meninggal, Luther yang melanjutkan persahabatannya itu. Namun Luther mulai merasakan khawatir dengan keadaan Nakamura. Luther tak memiliki anak yang akan melanjutkan hubungannya dengan Nakamura. Akhirnya, ia melaporkan tentang persahabatannya itu kepada Kosek Pulau Morotai. Pada awalnya, Kapten Polisi Lawalata selaku Dansek belum meyakini laporan Luther tersebut. Sehingga, ia meneruskan laporan tersebut kepada Komandan Pangkalan Utara TNI - AU (Lanud) Morotai. Laporan penemuan ini kemudian diteruskan ke Markas Besar TNI - AU di Jakarta yang segera menghubungi Kedutaan Besar Jepang di Jakarta.
Awal November 1974, pihak Kedutaan Besar Jepang di Jakarta meminta bantuan Pemerintah Indonesia untuk mengorganisasi sebuah misi pencarian, yang kemudian dilakukan oleh TNI AU. Tim pencari tersebut beranggotakan 20 orang, dan dipimpin oleh Kapten Supardi AS dari KODAU XII/Morotai, Tim berangkat pada 18 Desember 1974 pagi hari. Namun, keberangkatan itu dirahasiakan dari penduduk. Tim berjalan dari pagi hingga petang mulai dari pusat kota Pulau Morotai ke kawasan hutan di Desa Pilowo, tempat persembunyian Nakamura.
Pada saat beristirahat malam harinya, seorang anggota tim yang fasih berbahasa Jepang, Sersan Mayor Hanz Anthony, mulai merancang merancang skenario penangkapan Nakamura. Ia mengajarkan lagu kebangsaan Jepang, Kimigayo kepada seluruh tim. Selain lagu, tim juga membawa foto Presiden Soeharto , Perdana Menteri Jepang Kakue Tanaka , bendera merah-putih dan bendera Hinomaru Jepang Skenarionya adalah, pada saat Nakamura muncul, maka tim penjemput menyanyikan lagu kebangsaan Jepang dan mengibarkan bendera Jepang dan Merah putih serta menunjukkan foto Presiden Soeharto dan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka.
Pagi hari H-nya, tim penjemput kembali bergerak mencari Nakamura. Setelah beberapa saat berjalan, tim menemukan gubuk persembunyian Nakamura. Pada waktu ditemukan, Nakamura sedang tidak ada di tempat. Tim penjemput pun kemudian bersembunyi. Saat Nakamura kembali, tim kemudian mengepung gubuk itu.Nakamura terkejut dan raut wajahnya terlihat sangat tegang dan berusaha masuk ke dalam gubuk.
Sesuai sekenario, tim menyanyikan lagu Kimigayo dan mengibarkan foto serta bendera. Mendengar itu, Nakamura langsung berdiri tegak dan dalam keadaan siap. Saat itulah, Serma Hanz Anthony menyergap Nakamura. Tim kemudian menodongkan senjata ke arah Nakamura dan menyuruhnya angkat tangan. Sersan Mayor Hanz Anthony kemudian berbicara kepada Nakamura dalam bahasa Jepang. Hanz menginformasikan bahwa perang telah usai sejak 29 tahun lalu. Jepang, sebagai negara yang dibela Nakamura juga kalah dalam perang tersebut oleh Sekutu.
Hanz juga menginformasikan bahwa Pulau Morotai saat ini adalah daerah merdeka dan bergabung dengan negara yang bernama Indonesia. Hanz pun menunjukkan foto Presiden Soeharto sebagai kepala negara Indonesia saat itu. Tak lupa, Hanz juga menunjukkan foto Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka sebagai kepala pemerintahan Jepang.
Setelah ditangkap, Nakamura diberikan baju seragam oleh TNI-AU . Tanpa diikat atau diborgol, Nakamura dibawa oleh tim ke pangkalan TNI AU melalui jalur laut menggunakan speed boat. Sampai di pelabuhan, warga ternyata sudah ramai. Pulau Morotai pun dihebohkan oleh penemuan Nakamura. Di Lanud Morotai, Nakamura dicek kesehatannya, dan hasilnya luar biasa, meskipun 30 tahun bersembunyi di dalam hutan, kesehatannya sangat baik.
Melalui terjemahan Serma Hanz, Nakamura mengaku bahwa ia bertahan di hutan untuk menghindari penangkapan Sekutu, yang menyerang Morotai pada awal 1945. Ia masih beranggapan pulau tersebut dikuasai oleh tentara Sekutu karena sering melihat pesawat-pesawat TNI AU terbang di atas Morotai, yang disangkanya pesawat-pesawat milik Amerika Serikat . Ia kemudian diterbangkan ke Jakarta ditemani KSAU waktu itu, Marsekal Saleh Basarah kemudian ditempatkan di RS PELNI Jakarta untuk beristirahat. Berita penemuannya diumumkan di Jepang pada tanggal 27 Desember 1974
.Demikian kisah tentara Jepang di Indonesia pasca Perang Dunia II. Semoga menambah pengetahuan .
Catatan Kaki
Ini buku karya Yoshikuni Igarashi .
Pertempuran Morotai terjadi pada tanggal 15 September 1944 pada akhir Perang Dunia II . Pertempuran dimulai ketika tentara Amerika Serikat dan Australia mendarat di Pulau Morotai bagian barat daya. Basis di Pulau Morotai dibutuhkan untuk membebaskan wilayah Philipina. Jumlah tentara AS dan Australia yang menyerang jauh lebih banyak dari pada Tentara Jepang. Bantuan Jepang mendarat pada Oktober dan November, tetapi kekurangan persediaan untuk menyerang Sekutu. Pertempuran terus berlanjut hingga akhir perang, dengan tentara Jepang menderita korban jiwa yang besar akibat penyakit dan kelaparan. Termasuk Teuro Nakamura pada tahun 1945 juga dinyatakan tewas dalam pertempuran tersebut .
留言
張貼留言