评论。G30S 1965,冷战与民族主义的毁灭:新秩序的普通华人思维受害者/作者:Tan Swie Ling
评论。G30S 1965,冷战与民族主义的毁灭:新秩序的普通华人思维受害者/作者:Tan Swie Ling
REVIEW: Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba
Tan Swie Ling.2010.
G30S 1965, Cold War & the Destruction of Nationalism:一个中国欧巴受害者的想法
Depok:Komunitas Bambu与Lembaga Kajian Sinergi Indonesia合作,2010。
阅读陈瑞麟的这本书是一个挑战。光是书名就能让读者窥探到一个总是充满争议的话题。另外,近600页的厚度,让读者立刻明白这本书不是一本轻松的睡前读物。
从受害者之一的角度回溯1965年的冲突(意识形态和身体),需要谨慎,尤其是耐心。
虽然陈瑞麟热衷于邀请读者从他的角度重温经常被总结为 "G30S "的事件,
但遗憾的是,
他没有解释 "陈瑞麟 "从何而来,
以及他在他拼命捍卫的印尼共产党中的地位。
陈瑞麟只说自己是一个 "华人思维的平民受害者"。
因此,陈瑞麟不仅因为他的GPKI身份而成为受害者,而且还因为他的中国身份而成为受害者。
这种作为受害者的多元经验是本书组织为两部分的背景。
第一部分是关于围绕G30S的事件及其后果,
第二部分是对独立后的印尼华人的状况和处境的思考。
在第一部分中,Tan描述了他作为一个被指控企图政变的政党成员的经历,然后作为一个政治犯在反共政权中生活了13年。
在这里,Tan也提出了他关于这一系列事件背后的人的理论,即六位将军被暗杀以及随后对作为被告的PKI的报复行为。
陈瑞麟将G30S的事件放在冷战的背景下,并毫不犹豫地揭露了指向中央情报局的参与的节点--
通过一个机构将这个流氓党与印尼军方机构(Biro Chusus)联系起来--
甚至指向后来证明从杀害军官和消灭PKI中受益最大的前强人苏哈托少将。
Tan并不否认PKI在G30S中的作用,但完全拒绝对党员直至最小的党员的指控和后果。
原因是特别局的存在不符合传统的党内等级制度(使其人员作为PKI干部的地位出现问题)。
此外,像Syam Kamaruzaman这样的双头干部通过招募程序成功渗入党内,这也是有问题的。
许多PKI干部的恐慌和懦弱的反应--
他严厉批评了这些干部--
在Tan看来,这也证明了PKI并不打算通过政变或肌肉搏斗来夺取政权。
作为苏迪曼(PKI最后一任主席)的亲密伙伴,以及作为G30S/PKI囚犯的经历,使他获得了 "内部 "知识(基于他在狱中的观察以及与其他囚犯的对话),
这使他赞成中央情报局参与G30S事件的理论,
同时也使仅基于檢驗訴訟新聞Berita Acara Pemeriksaan(BAP)的学术分析变得不可靠。
Tan认为,该档案不过是垃圾,因为它是从无法再承受酷刑的囚犯那里敲诈来的。
这本书的第一部分和第二部分之间几乎无法画出一条直线。
唯一的联系是作者本人,他恰好是为数不多的有足够关心和有胆量做政治的华裔之一。
结果很明显:他成了新秩序政治的牺牲品,把华裔与共产主义等同起来。
在书的第一部分,陈瑞麟依靠他作为政治犯的个人经验。同时,在书的第二部分,Tan代表这个群体说话,即华裔少数民族,他们平均有相同的经历:
在独立的印尼带着华人的标签,因此充满歧视。
印度尼西亚的历史
作为一个经常成为替罪羊的 "华人",Tan在这个少数群体的困境背后也有一系列的替罪羊。
荷兰人和他们的分裂政治,让华人在革命中看起来和荷兰人站在一起的NICA,
新秩序,甚至是CIA。Tan还指责普通印尼人对国家的起源和真正意义缺乏了解,
对他来说,这反映在奥托-鲍尔和欧内斯特-勒南的著作中--一个由共同命运和共同生活的意志形成的统一体。
对陈瑞麟来说,荷兰殖民化所产生的共同命运感应该导致中国人被接受为印尼的同胞。
然而,
由于独立的印尼公民法将原住民与非原住民隔离开来,
共同生活的意愿被认为是先天不足。
作为所有这些问题的解毒剂,陈氏提出了一个并不新鲜但值得重复的建议:
让华人积极参政,建立政治力量,这样他们就不会轻易被当局当作替罪羊。
正如他对PKI的辩护是不遗余力的,陈瑞麟对华人的辩护也是如此热情,以至于有时显得鲁莽。
例如,在陈瑞麟的描述中,华人似乎是一个单一的群体。
然而,从被邀请为1945年宪法起草工作提供意见的三位中国代表的观点来看
(Tan的书中引用了这三位代表的观点),
很明显,所谓的华人群体实际上有着不同的背景和政治取向。
这也是三位中国代表中的
一位拒绝印尼公民身份,而
另一位则要求对不同意成为印尼公民的人进行法律上的酌情处理的原因。
正是这种拒绝印尼公民身份的回旋空间,
成为所有中国公民的祸害,
因为这样一来,
他们的印尼国籍成员身份就成了需要不断证明的东西。
G30S 1965,另一个疏忽是Tan蔑视一些印尼民族主义人物和团体对中国民族主义人物的排斥,
如《新报》前主编Kwee Kek Beng。
Tan似乎忘记了Kwee不仅是一个民族主义者,
而且是一个以中国为导向的民族主义者,
遵循他所领导的报纸集团的意识形态。
尽管如此,Tan还是敏锐地看到,
被誉为革命性法律的2006年《公民法》
实际上仍然不愿意彻底消除 "本土 "公民和华裔公民之间的障碍,
而华裔公民已经成为 "非本土 "的代名词。
归根结底,这本书值得一读(和写),因为它记录了一个独立的印度尼西亚政治犯的经历,与不同政治情况下的类似叙述的重要性相当,例如
IFM Salim的回忆录《在Digul的十五年》和
Oey Tiang Tjoei作为荷兰政治犯的《我们的经历Dalem Pengasingan》,以及
Nio Joe Lan作为日本政治犯的《Dalem Tawanan Djepang和
Kho An Kim Pendjara Fascist》。
将他们的著作与Tan的经历并列,至少可以得出一个结论:
对政治对手的残忍与统治者的肤色无关--荷兰人、日本人和印尼同胞的虐待狂程度也不低。
与本书的主题有关,值得一问的是。
只改变统治者皮肤颜色的民族主义有什么意义?
如果读者期望在这里找到陈瑞麟的回忆录,也会被愚弄,
不像萨利姆那样,他通过承认自己作为囚犯的弱点和恐惧而敞开心扉。
陈瑞麟分享了他的经历,但最主要的还是他的政治观点。
正如本书前言中所评论的那样,陈瑞麟的故事开始于1965年,
当时他和苏迪曼在他们的藏身处被突袭。
但他是如何走到那一步的,读者却一无所知,
这让人很难产生共鸣,
并试图通过作者的眼睛看问题。
这就像陈瑞麟终于开口了,但他仍然不愿意透露自己。
唯一能让读者感觉到与陈瑞麟的联系的部分是当作者叙述苏迪曼被处决前的最后时刻,一边流泪一边唱着 "Pujaan Partai "这首歌,向他所崇拜的领袖告别。
在这里,不仅典狱长和囚犯,而且读者也被卷进了这种情绪中。
歌颂党 - 印尼共产党赞歌
Pujaan Kepada Partai - Hymn of Indonesian Communist Party
https://www.youtube.com/watch?v=yMVyCQ_g3cw
#####
东南亚的京都评论》。第12期(2012年9月)。生者与死者
参考文献
- G30S 1965,冷战与民族主义的毁灭:新秩序的普通中国思想受害者(Depok:Komunitas Bambu,2010)
- Pancasila 的黑暗时期:印度尼西亚民族主义的面貌(Depok:Ruas,2014)
Kho An Kim. 1947. 法西斯监狱:从地狱到地狱。贾卡塔。贾曼书店。
Nio Joe Lan. 1946. Dalem日本人的俘虏。Boekit Doeri-Serang-Tjimahi, penoetoeran pengidoepan interneeran pada djeman pendoedoekan Djepang. 雅加达。莲花。
Salim, I.F.M. Chalid. 1977. 15年的Digul,新几内亚的一个集中营,印度尼西亚独立的苗圃(原标题。Vijftien jaar Boven-Digoel, concentratiekamp op Niew-Guinea, bakermat van de Indonesiaische onafhankelijkheid; 译者 Hazil Tanzil and Taufik Salim)。雅加达: Bulan Bintang
Oey Tiang Tjoei. 1942. 我们的流亡经历。Garoet-Soekaboemi和Noesakambangan(Tjilatjap)。洪波。
- G30S 1965, perang dingin & kehancuran nasionalisme: pemikiran Cina jelata korban Orba (Depok: Komunitas Bambu, 2010)
- Masa gelap Pancasila: wajah nasionalisme Indonesia (Depok: Ruas, 2014)
Kyoto Review of Southeast Asia. Issue 12 (September 2012). The Living and the Dead
Rujukan
Kho An Kim. 1947. Pendjara fasis: dari neraka ke neraka. Djakarta: Toko Buku Djaman.
Nio Joe Lan. 1946. Dalem tawanan Djepang: Boekit Doeri-Serang-Tjimahi, penoetoeran pengidoepan interneeran pada djeman pendoedoekan Djepang. Djakarta: Lotus.
Salim, I.F.M. Chalid. 1977. Lima belas tahun Digul, kamp konsentrasi di Nieuw Guinea, tempat persemaian kemerdekaan Indonesia (Judul asli: Vijftien jaar Boven-Digoel, concentratiekamp op Niew-Guinea, bakermat van de Indonesische onafhankelijkheid; penerjemah Hazil Tanzil and Taufik Salim). Jakarta: Bulan Bintang
Oey Tiang Tjoei. 1942. Pengalaman kita dalem pengasingan: Garoet-Soekaboemi dan Noesakambangan (Tjilatjap). Hong Po.
#####
Tan Swie Ling . 2010.
G30S 1965, Perang Dingin & Kehancuran Nasionalisme: Pemikiran Cina Jelata Korban Orba
Depok: Komunitas Bambu bekerja sama dengan Lembaga Kajian Sinergi Indonesia, 2010
Membaca buku karangan Tan Swie Ling ini merupakan sebuah tantangan. Dari judulnya saja, pembaca bisa mengintip topik yang yang selalu kontroversial. Juga, tebalnya yang hampir 600 halaman, bikin pembaca langsung mengerti buku ini bukan bacaan ringan pengantar tidur. Diperlukan kecermatan dan terutama kesabaran untuk menelusuri kembali pertikaian (ideologi maupun fisik) 1965 dari sudut pandang salah seorang korbannya. Walaupun Tan berhasrat besar mengajak pembaca untuk menengok kembali serangkaian peristiwa yang sering diringkas sebagai “G30S” dari sudut pandangnya, sayang sekali ia tidak menjelaskan darimana seorang “Tan Swie Ling” datang dan di mana posisinya dalam Partai Komunis Indonesia yang mati-matian dibelanya. Tan hanya menggambarkan dirinya sebagai seorang “Cina jelata korban Orba.” Jadi, Tan bukan semata korban karena ke-PKI-annya, tapi juga karena ke-Cina-annya. Kemajemukan pengalaman sebagai korban inilah yang menjadi latar belakang pengaturan buku menjadi dua bagian: Bagian Pertama tentang hal-hal seputar G30S dan efeknya, dan Bagian Kedua berisi renungan akan keadaan dan situasi orang Tionghoa di negara Indonesia merdeka.
Di bagian pertama Tan menguraikan pengalamannya sebagai anggota sebuah partai yang dituduh percobaan kudeta, dan kemudian sebagai tahanan politik selama 13 tahun sebuah rejim yang anti-komunis. Di sini Tan sekaligus menawarkan teorinya tentang siapa dalang di balik serangkaian peristiwa ini, yaitu pembunuhan enam orang jendral dan pembalasan bertubi-tubi terhadap PKI sebagai yang tertuduh. Tan meletakan peristiwa G30S dalam konteks Perang Dingin dan tanpa ragu membeberkan simpul-simpul penanda yang merujuk pada keterlibatan CIA – lewat sebuah badan yang menjembatani partai tak berotot ini ke institusi militer Indonesia (Biro Chusus) – bahkan pada mantan orang kuat yang kemudian ternyata paling diuntungkan dengan terbunuhnya para petinggi militer dan dibabat-habisnya PKI, yaitu Mayjen Suharto. Tan tak membantah andil PKI dalam peristiwa G30S, tapi menolak bulat-bulat tuduhan dan konsekwensi yang selama ini dibebankan pada warga partai sampai ke anggota-anggota terkecilnya. Alasannya, karena keberadaan Biro Chusus yang tidak sesuai hirarki tradisional partai (sehingga status orang-orangnya sebagai kader PKI menjadi problematis). Selain itu juga, kader-kader bertuan ganda seperti Syam Kamaruzaman yang berhasil menyusupi partai lewat proses perekrutan yang juga problematis. Reaksi panik dan pengecut kebanyakan kader PKI – yang dicercanya habis-habisan – toh dalam pandangan Tan juga merupakan bukti bahwa PKI tidak merencanakan pengambilalihan kekuasaan lewat jalur kudeta atau adu otot. Posisi Tan sebagai orang dekat Sudisman (ketua PKI terakhir) dan pengalamannya sebagai tahanan G30S/PKI memberinya pengetahuan “orang dalam” (berdasarkan pengamatannya selama di penjara sekaligus perbincangan dengan sesama tahanan) yang membuatnya lebih condong pada teori keterlibatan CIA dalam peristiwa G30S dan sekaligus mendiskredit analisis akademis yang semata-mata bersumber pada Berita Acara Pemeriksaan (BAP). BAP itu tidak lebih dari sampah, tuding Tan, karena diperas dari tahanan yang tidak lagi mampu menahan siksaan.
Antara bagian pertama dan bagian kedua buku ini hampir tak bisa ditarik garis lurus. Satu-satunya penghubung adalah si penulis sendiri yang kebetulan merupakan satu dari segelintir orang Tionghoa yang cukup peduli dan bernyali untuk berpolitik. Akibatnya cukup jelas: secara lapis- ganda jadi mangsa politik Orde Baru yang mengidentikan Cina dengan komunis. Di bagian pertama buku, Tan bertumpu pada pengalaman pribadinya sebagai tapol. Sementara di bagian kedua buku, Tan berbicara atas nama kelompok, yaitu warga minoritas Tionghoa yang rata-rata punya pengalaman sama: menyandang cap Cina di negara Indonesia merdeka dan karenanya kenyang diskriminasi.
History_of_Indonesia
Sebagai “Cina” yang sering jadi kambing hitam, Tan juga punya sederet kambing hitam di balik kesengsaraan kelompok minoritas ini: Belanda dan politik pecah belahnya, NICA yang membikin seolah-olah warga Tionghoa berpihak pada Belanda dalam revolusi, Orde Baru, bahkan CIA. Tan juga menyalahkan ketidakpahaman rata-rata masyarakat Indonesia akan asal-usul dan arti bangsa yang sebenarnya, yang baginya tercermin pada tulisan-tulisan Otto Bauer dan Ernest Renan – yaitu suatu kesatuan yang terbentuk dari kesamaan nasib dan kehendak untuk hidup bersama. Bagi Tan, rasa senasib dan sepenanggungan yang muncul dari penjajahan Belanda seharusnya membuat warga Tionghoa diterima sebagai saudara sebangsa di Indonesia. Namun, kehendak untuk hidup bersama dinilainya telah cacat lahir karena undang-undang kewarganegaraan Indonesia merdeka yang memilah asli dari tidak asli. Sebagai penawar untuk semua masalah ini, Tan memberi saran yang tidak baru tapi memang layak untuk diulang: agar warga Tionghoa aktif berpartisipasi dalam politik, membangun otot politik supaya tidak gampang dijadikan kambing hitam oleh penguasa.
Sama seperti pembelaannya pada PKI yang gigih, Tan membela warga Tionghoa dengan menggebu, sehingga kadang terkesan sembrono. Warga Tionghoa, misalnya, dalam penjabaran Tan terkesan sebagai sebuah kelompok yang monolitik. Padahal dari pandangan ketiga delegasi warga Tionghoa yang diundang untuk memberi masukan dalam perancangan Undang-undang Dasar 1945 (ketiganya dikutip dalam buku Tan), tampak jelas bahwa yang disebut kelompok Tionghoa sebenarnya punya latar belakang dan orientasi politik yang berbeda-beda. Alasan ini juga yang menyebabkan satu dari ketiga delegasi Tionghoa menolak kewarganegaraan Indonesia, sedangkan satu lagi meminta keleluasaan hukum bagi mereka yang tidak setuju menjadi warganegara Indonesia. Ruang manuver untuk menolak kewarganegaraan Indonesia inilah yang kemudian jadi momok bagi seluruh warga Tionghoa, karena dengan begitu keanggotaan mereka dalam kebangsaan Indonesia menjadi hal yang terus-menerus perlu dibuktikan.
1955_coverKeteledoran lain adalah cibiran Tan terhadap penolakan beberapa tokoh dan kelompok nasionalis Indonesia terhadap tokoh-tokoh nasionalis Tionghoa seperti Kwee Kek Beng, mantan pemimpin redaksi Sin Po. Agaknya Tan lupa bahwa Kwee bukan sekedar seorang nasionalis, tapi juga nasionalis yang berkiblat ke Tiongkok, mengikuti paham kelompok koran yang dikepalainya. Walau demikian, Tan cukup jeli melihat bahwa Undang-undang Kewarganegaraan tahun 2006 yang didengung-dengungkan sebagai undang-undang revolusioner sebenarnya masih menyimpan ketidakrelaan untuk secara total melepaskan pembatas antara warganegara “asli” dan warganegara keturunan Tionghoa yang sudah terlanjur identik sebagai “tidak asli.”
Pada akhirnya, buku ini berharga untuk dibaca (dan ditulis) sebagai rekaman pengalaman seorang tahan politik di masa Indonesia merdeka, setara dengan pentingnya beberapa catatan serupa dalam situasi politik yang berbeda, misalnya memoir IFM Salim Lima Belas Tahun Digul dan Oey Tiang Tjoei Pengalaman Kita Dalem Pengasingan sebagai tapol Belanda, dan tulisan pengalaman Nio Joe Lan Dalem Tawanan Djepang dan Kho An Kim Pendjara Fasis sebagai tapol Jepang. Menyandingkan tulisan mereka dengan pengalaman Tan, paling tidak satu kesimpulan bisa ditarik: bahwa kekejaman pada lawan politik tidak ada hubungannya dengan warna kulit si penguasa – Belanda, Jepang, dan sesama Indonesia tidak kalah sadisnya. Sehubungan dengan tema buku ini, patut dipertanyakan: Lantas apa guna nasionalisme yang hanya mengganti warna kulit sang penguasa?
Pembaca juga bakal terkecoh kalau mengharap menemukan memoir Tan Swie Ling di sini, layaknya memoir Salim yang membuka diri dengan mengakui kelemahan dan ketakutannya sebagai tahanan. Tan berbagi catatan pengalaman, tapi bagian terbesar tetaplah pandangan-pandangan politiknya. Seperti komentar di Kata Pengantar buku ini, Tan memulai ceritanya pada tahun 1965, ketika digerebek bersama Sudisman di tempat persembunyian mereka. Tapi bagaimana perjalanannya hingga sampai pada titik itu, pembaca dibiarkan dalam gelap, hingga tidak mudah untuk berempati dan mencoba melihat berbagai hal yang dipaparkan Tan lewat kacamata si penulis. Ibaratnya, Tan akhirnya membuka mulut, tapi masih emoh membuka diri. Satu-satunya bagian dimana pembaca merasa bisa “connect” dengan Tan adalah ketika penulis menceritakan saat-saat terakhir sebelum Sudisman dieksekusi, mengucapkan selamat jalan pada pemimpin yang dikaguminya itu dengan menyanyikan lagu “Pujaan Partai” sambil berurai air mata. Di sini tidak hanya sipir dan para tahanan, pembaca pun hanyut dalam emosi.
留言
張貼留言